•  
     

 

Assalamualaikum there.


Welcome to the Mabit Nurul Fikri Website. Feel free to explore all the information here.

documentation

  • Home

Letter of Inspiration #1

HARAPAN ITU MASIH ADA

oleh: dr. Dion Firli B.

 

   Nama saya Dion Firli, siswa SMA kelas 3 jurusan IPA. Saat saya menginjakkan kaki di kelas 3 SMA ini, barulah saya tersadar bahwa tahun depan, tepatnya tanggal 4 dan 5 Juli 2002 akan menjadi momen yang paling besar dan tidak terlupakan dalam hidup saya, yang akan menggoreskan sejarah penting dalam cerita hidup ini. Ya, ujian seleksi masuk Perguruan Tinggi Negeri atau nama kerennya adalah SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru), sebuah ujian tulis yang berdurasi total tidak lebih dari 4 jam, tetapi dampaknya nanti akan mampu menggerakkan langkah kita dalam memilih akan menjadi apa kelak kita nanti di masa depan.

   Saya sadar bahwa menghela nafas dan memejamkan mata tidak akan mengubah masa depan ini menjadi lebih baik. Saya harus melangkah lebih jauh, membuat lompatan-lompatan oportunis, melipatgandakan kekuatan yang hampir mustahil dilakukan (sepertinya) oleh kedua tangan lemah ini. Namun, saya yakin bahwa "hope is my greatest power", harapan yang membuat langkah ini terus mampu bergerak maju tanpa berpikir harus mundur ke belakang.

Walau banyak kerikil tajam, kita harus terus maju.

Walau lemah, bukan berarti kita tidak mampu mencapai garis finish.

Walau penuh luka, darah, dan air mata, bukan berarti kita tidak bisa merangkak sampai ke atas puncak gunung.

   Satu kalimat yang membuat saya yang lemah ini mampu terus bergerak maju adalah jika kita melakukan apa yang orang lain tidak lakukan, kita nanti akan mendapatkan apa yang orang lain tidak dapatkan. Kalau bahasa kekiniannya... antimainstream

   Di sekolah, saya bukan termasuk siswa yang jenius, extraordinary, pintar, atau apapun itu sinonimnya. Namun, bukan berarti saya tidak memiliki kesempatan dan harapan untuk mengungguli mereka yang jenius. Untuk menghadapi SPMB, saya butuh kesempatan ekstra, jam belajar ekstra, ibadah ekstra, dan daya tempur ekstra yang harus melebihi teman-teman yang belajar sangat giat dan rajin dengan metode mainstream. Jujur saja, saya tidak bisa lepas dari yang namanya bimbingan belajar. Saya mengikuti dua bimbel (bimbingan belajar-red) sekaligus saat itu untuk dapat menyamai skill dari teman-teman lain.

   No holiday? Okay, fine. Tiap Sabtu dan Minggu pun saya harus belajar dari pagi sampai malam, lalu dari malam sampai pagi, pagi sampai malam, dan tidak sadar keesokannya sudah bertemu dengan hari Senin lagi.

   Lelah? Sudah pasti.

   Menangis? Sudah pasti.

   Angin segar weekend sudah tidak dapat saya rasakan lagi. Terkadang saya berpikir mengapa saya harus menjalani semua hal bodoh ini? Tetapi sekali lagi, saya harus tetap jalan maju. Tidak boleh berhenti, apalagi mundur. Biarlah kurasakan betapa sakit dan pedihnya kerikil di perjalanan mendaki gunung ini, karena insya Allah saya yakin bahwa saya dapat melihat betapa indahnya pemandangan di puncak gunung nanti, pemandangan yang tidak semua orang dapat nikmati tanpa perjuangan keras.

   Hari demi hari, waktu demi waktu, kujalani dengan berat. Di saat teman-teman lainnya asyik menikmati weekend dengan jalan-jalan bersama keluarga, ke mall, makan di restoran bersama, menonton film di bioskop, nge-gaul bersama teman-teman ke tempat nongkrong. Saya hanya bisa meneteskan air mata dan memandang betapa bahagianya mereka, sedangkan saya hanya ditemani sebuah pulpen, pensil, dan beberapa lembar kertas setiap weekend. They're my best friends.

   Teman-teman saya kerap kali mengajak saya untuk jalan-jalan tiap malam minggu, nonton, makan, atau sekadar nongkrong untuk ngobrol-ngobrol dan haha hihi (tertawa-red), tetapi selalu dengan nada lemas saya menolaknya. Terserah mereka menganggap saya apa, mau ngatain saya cemen, tidak gaul lagi, cupu, atau apapun sinonim lainnya. Memang, waktu kelas 1 dan 2 SMA dulu, saya cukup gaul untuk hal-hal berbau malming (malam minggu-red), dari main biliar, menonton konser, menonton film di bioskop, wisata kuliner, main ps (playstation-red), ya mungkin bisa dibilang zaman senang-senang, hura-hura, dan jahiliyah. Jarang belajar, otak micin, lemot (sulit mencerna pelajaran-red), bahkan pada saat itu saya belum kepikiran untuk mengukir masa depan. Semua hanya kesenangan semu di depan mata. Namun, entah mengapa pintu hidayah itu terbuka lebar di saat saya kelas 3 SMA, walaupun godaan untuk menutup pintu itu kembali sangat sangat sangat sangat sangat banyak.

Menangislah, jika itu membuat kita lega.

Bersabarlah, jika itu membuat kita terus istiqomah (teguh pendirian-red).

Perjalanan yang harus ditempuh masih panjang, sementara waktu tidak bisa dihentikan walau sedetikpun.

Never look back, just walk to the top.

Eventhough it's hard and too many things that will make you slow.

Just walk, walk, and walk.

   Tidak terasa saya sudah sampai pada satu bulan terakhir. Ini masa-masa yang paling gila yang pernah saya rasakan. Memang sih, Ujian Nasional sudah selesai, sekolah sudah libur, tetapi saya harus melakukan hal yang lebih berat dari sebelumnya. No weekend, no weekday. Indeed, I don't know what is the name of today. Pagi sampai sore bimbel A, lanjut sore sampai malam bimbel B, lanjut malam sampai pagi menginap untuk belajar bersama teman-teman seperjuangan di bimbel sampai pagi. Tidak terasa sudah pagi dan harus berangkat ke bimbel A. Hal ini berlangsung tiap hari, 24/7 non-stop. Antara rajin dan gila, sudah tidak bisa dibedakan, tetapi inilah kenyataan hidup. Saya merasa sudah banyak hal-hal bodoh dan main-main tanpa tujuan selama mengenyam pendidikan di dua tahun SMA. Ya, dua tahun memang tidak sebentar dan diberi waktu satu tahun untuk taubat dan memperbaiki segalanya. Terlihat sangat mustahil, bukan? Karena itu saya harus melakukan hal ekstrem yang mustahil dilakukan orang-orang lain. Bermalam sambil belajar dan ibadah di bimbel kita tercinta, dulu kita menyebutnya dengan nama MABIT. Selama satu bulan diisolasi, dikarantina, untuk mengejar ketertinggalan semuanya, cocok untuk manusia-manusia yang memiliki pikiran awal hopeless seperti saya, tetapi seiring dengan berjalannya waktu, secercah harapan mulai bersinar. Gagal dalam try out tidak masalah, yang penting diperbaiki dan maju terus.

Bagaimana agar seorang pengendara sepeda tidak terjatuh? Ya, kayuh terus sepedanya.

Bagaimana kalau ternyata jatuh juga? Ya, mari segera bangkit, tegakkan kembali sepedanya, dan kayuh kembali.

   Akhirnya, penantian itu datang juga, saya mampu melalui ujian tersebut (SPMB-red) dengan deg-degan (jantung yang berdebar-debar-red) tetapi yakin, dengan ikhtiar dan doa. Saya yakin Allah akan memberikan keputusan terbaik-Nya untuk masa depan saya.

   Satu bulan kemudian, tepatnya tanggal 5 Agustus 2002, pengumuman hasil SPMB yang dinanti akhirnya datang juga. Saat itu saya keluar sepagi mungkin untuk mencari tukang koran. Ya, melihat pengumuman hasil SPMB di koran, benar-benar pemandangan indah yang dinanti. Untuk pertama kalinya nama saya muncul di koran dan tertulis sebagai mahasiswa baru yang terdaftar pada jurusan Pendidikan Dokter Universitas Indonesia. Alhamdulillah, segala usaha, keringat, darah, dan air mata membuahkan hadiah terbaik tepat di hari ulang tahun saya yang ke-18. Terima kasih ya Allah, inilah masa depan saya, di sinilah kaki saya mulai melangkah untuk menuju masa depan cerah.

   Walau saya tengah merayakan dengan tetesan air mata kebahagiaan, tidak sedikit pula pemandangan air mata penyesalan terlihat mengalir di wajah teman-teman baik saya. Mereka menyesal, ya, jelas menyesal. Kesal tidak lulus, sudah tidak berguna. Memang kenyataannya sesuai, lebih baik menangis di awal kemudian tersenyum di akhir. Sayang sekali, seberapapun banyaknya air mata penyesalan yang akan kita keluarkan dengan menjerit dan menangis, semua air mata itu tidak akan pernah menjadi mesin waktu yang akan mengulang segalanya dari awal, karena itu manfaatkanlah waktu yang masih tersisa ini supaya nanti yang menetes dari kedua mata kita adalah air mata kebahagiaan. Ya, ketahuilah, bahwa sebodoh-bodohnya kita ketika pertama kali melangkah dan menginjak garis start ini, percayalah bahwa HARAPAN ITU MASIH ADA. Goreskan garis finish nanti dengan air mata kemenangan.

 

 

Letter of Inspiration ini ditulis ulang dengan penyesuaian.

 @mabitnurulfikri      @mabitnurulfikri      @RNY3388N

Pendaftaran Mabit NF 2017

Assalamu'alaykum warrahmatullahi wabarakatuh!

Hallo teman-teman, udah nggak sabar ya untuk daftar Mabit ? Tenang aja, karena kali ini pendaftaran Mabit Nurul Fikri tahun ajaran 2016/2017

.

.

.

 

 

TELAH DIBUKAA!!

 

.

.

.

Nah, langsung aja buka link di bawah ini dan ikuti tahap-tahapnya ya! heart

bit.ly/mabiters2017-registrasi

 

Pendaftaran di google forms dibuka sampai tanggal 31 Agustus 2016 kiss

Pengumpulan formulir di ruang sekretariat Mabit Nurul Fikri dari tanggal 31 Agustus 2016 - 3 September 2016 mail

 

Untuk info selengkapnya mengenai pendaftaran, bisa banget kalian langsung tanya-tanya ke nomor contact person yang ada di formulir atau ke salah satu akun media sosial kami cool

 

Kami tunggu kalian untuk menjadi bagian dari keluarga besar Mabit Nurul Fikri wink

Wassalamu'alaykum warrahmatullahi wabarakatuh

 


 @mabitnurulfikri      @mabitnurulfikri      @RNY3388N

BIGtheme.net Joomla 3.3 Templates

Let‘s get started. Get the knowledge!